kenapa aku mulai menulis?
semua bermula dari suatu kisah sederhana. Memang, semua cerita selalu bermula dari suatu awal sederhana, seberapa kompleks sebuah cerita, tentu bermula dari sebuah awal yang tidak terduga. Secangkir kopi di kafe sambil melihat orang yang lalu lalang, sebuah nada sederhana dari sebuah not lagu, bahkan sampah yang teronggok begitu saja di sembarang tempat bisa menjadi alasan seseorang mulai menulis.
Alasanku?
Patah hati. sederhana ya?
Dua buah kata klise yang jadi pendorong banyak orang untuk memulai sesuatu.
Yah, tidak cuma patah hati saja sih, kombinasikan patah hati, terlalu banyak waktu luang, dan terlalu banyak ide, dan yah, bisa saja hasilnya sebuah cerita. Cerita bodoh tentang kehidupan seorang manusia yang terlalu sering menutupi apa yang dirasakan dalam hati dengan senyum, tawa dan canda.
Awal dari semua hal memang sesuatu yang sederhana, itu tidak dapat dipungkiri. Sebuah integral lipat yang rumit hanya berasal dari kombinasi angka 1-9. Sebuah algoritma rumit dari suatu pemrograman proses hanya dimulai dengan kombinasi 26 alfabet. Sebuah piramid kokoh yang bisa bertahan ribuan tahun hanya dimulai dari sebongkah batu.
Sayangnya yang biasanya membuat segalanya jadi kompleks adalah proses lanjutannya. Kreasi yang dapat dipikirkan oleh otak manusia bukanlah sesuatu yang mudah ditebak. Kelanjutan dari sebuah awal adalah hal yang berbahaya jika tidak ditangani dengan hati-hati. Contoh paling mudah yang sedang kualami saat menulis kata demi kata ini adalah apa yang kurasakan dalam hati. Aneh sekali. Walaupun aku sedang patah hati --dan percayalah, aku sudah beberapa kali patah hati-- tapi perasaanku sekarang aneh sekali, aku, boleh dibilang tidak tahu sedang merasakan apa. Kosong begitu saja, selama ini belum pernah begini. Sesuatu yang sederhana seperti patah hati, dibuat kompleks dari kelanjutannya, perasaan.
Seseorang pernah kudengar berkata, "awal yang baik adalah setengah dari keberhasilan." Oh ya? apa itu hanya berlaku untuk beberapa kejadian saja dan tidak berlaku umum? Karena sesuatu yang awalnya baik belum tentu dapat berakhir dengan baik. Apa kalau awalnya saja yang baik itu sudah bisa dibilang setengah dari keberhasilan? Padahal awal dari segala sesuatu itu adalah hal yang sederhana? Hmm.. Sepertinya aku belum punya jawaban untuk pertanyaan ini.
Pada poin ini, mungkin kalian berpikir "ookei, orang ini sedang depresi.." tapi tidak juga sih sebenarnya. Aku punya kehidupan yang hebat, sayang kalau depresi hanya karena suatu hal, yang yah, semua orang mengalaminya kan? Apa yang kutulis di sini hanya sebuah luapan perasaan yang kalau diungkapkan secara verbal akan terasa "girly" dan orang yang mendengar akan berpikir "damn, how gay is this?". Mungkin ini alasan yang membuatku lebih nyaman bercerita di sini, di tempat yang maya, bukan di tempat dimana banyak orang dapat membacanya, bukan di tempat di mana semua orang bisa berkata dan berusaha membuatku lebih baik.
Yah, karena ini hanyalah halaman satu dari halaman-halaman lain yang akan menyusul, sepertinya kalau dimulai dengan terlalu "dark" rasanya kurang pas, doakan saja apapun yang kutulis berikutnya bukan tentang ungkapan hati seorang manusia yang sedang patah hati, ok?
"damn! how gay is this??"
Sabtu, 05 Juli 2008
Langganan:
Postingan (Atom)