Kamis, 14 Agustus 2008

halaman 3

DougJa, ibukota dari sebuah provinsi yang memiliki nama yang sama dengan ibukotanya. Kota kecil yang memiliki jumlah penduduk dua kali lipat dari yang dimiliki oleh kota seukuran yang lain. Tentu saja kota ini juga memiliki pemandangan normal dari suatu kota yang kelebihan penduduk. Ramai dan berisik, khusunya di pasar saat pagi. Orang berseliweran, penjual berusaha merayu para pembeli dengan embel-embel harga yang kelewat murah, anak kecil berlari saling mengejar, pengamen jalanan duduk di sudut kota memegang banjo. Tetapi, semua itu tentu tidak lengkap tanpa adanya –

“Pencuri!!” Teriak seorang ibu.

“Tolong, tolong seseorang hentikan pencuri itu!!” teriak ibu yang lain

Segera saja orang-orang yang mendengar teriakan ibu itu membantu mengejar. Tetapi pencuri itu dengan keluwesan gerakan seorang atlit senam, meliuk, melompat dan berlari menghindari para pengejarnya di sudut-sudut pasar yang ramai. Tidak lama, para pengejar itu pun tertinggal dan memutuskan untuk menghentikan pengejaran.

“Wah, kusangka pengejarannya akan lebih seru.” Ujar pencuri itu sambil melihat ke dalam tas yang baru saja berpindah kepemilikan. “Hmm.. Tidak banyak. Padahal tasnya bagus.” Pikir pencuri itu sambil melepaskan bandana hijau yang dipakai di kepalanya. Setelah membungkus tas itu dengan bandananya, ia pun segera melenggang pergi.

“Paman, segelas susu coklat!” Teriak pencuri tadi ke penjual susu yang sedang menganggur. Tidak tampak ada orang yang membeli susunya sama sekali. “Pembeli pertama seperti biasanya Paman?” Tanya pencuri itu sambil menunggu susunya.

“Tidak hari ini Tiff, seorang seniman baru saja membeli susu coklatku. Dan dia tidak membayar setengah harga.” Jawab penjual susu itu sambil memberikan susu pada Tiff.

“Aww, jangan bilang begitu dong, bagaimana pun juga aku ini kan langganan Paman. Nah, karena langganan, seperti biasa aku bayar setengah saja ya? Terima kasih Paman!” Ujarnya sambil berbalik pergi. Tapi sepintas Tiff mulai berpikir, “Seniman membeli susu coklat? Tidak, tidak mungkin dia kan?”.

“Halo Tiff, lama tidak jumpa.” Seorang pengamen menyapa Tiff yang sedang membuka tutup botol susunya.

“B-Bar? I-iya, lama tidak jumpa memang.” Jawab Tiff yang hampir menumpahkan isi susunya.

“Selalu susu coklat ya? Walaupun aku yakin susu buatanku lebih enak, aku sudah mencoba susu dari orang itu kok.” Ujar Bar yang sedang menyandangkan banjo berwarna hijau dengan tali senar berwarna kuning di sisi tubuhnya. Tubuhnya yang lebih tinggi dari Tiff itu dibalut pakaian berwarna coklat – yang dulu berwarna putih—dan dia juga mengenakan jubah berwarna hijau yang serasi dengan banjonya.

Tiff pun mulai memperhatikan Bar, “Memang sudah lama, Bar sangat berbeda sekarang.” Pikir Tiff.

“Ah, benar. Ada yang ingin kubicarakan, sulit menemukanmu tahu? Tapi hasilnya sepadan dengan usahanya.” Bar berkata sambil menarik lengan Tiff ke sebuah restoran terdekat.

“Tu-tunggu dulu, kalau kau mau membicarakan masalah Cecil, aku masih menyimpannya, aku bisa mengembalikannya padamu.” Tiff berkata seraya berusaha melepaskan diri dari Bar.

“Tidak, ini sama sekali bukan masalah Cecil, kita bisa membicarakan pistol itu nanti.” Jawab Bar sambil masuk ke dalam restoran itu.

“Tiff, ingat apa yang kita lakukan sebelum, yah kau menghilang membawa Cecil?” Tanya Bar. Tiff tidak menjawab, ia sangat bingung, “Ada yang lebih penting dari Cecil? Dari pistol magis itu?” pikir Tiff dalam hati.

“Yah, kalau kau tidak ingat, bagaimana kalau kuperlihatkan ini.” Bar mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam rongga banjonya. Gulungan itu berisi barisan simbol aneh yang seperti diukir dalam gulungan itu.

“Wow! Kau menemukannya? Tapi bagaimana—“,

“Jangan tanya. Percayalah, kau tidak mau tahu. Kau masih ingat ke mana gulungan ini membawa kita?” Tanya Bar.

“Tentu saja, gulungan Abatwa. Gulungan yang ditulis oleh orang-orang kerdil.” Tiff berhenti untuk menelan ludah. “ Gulungan yang akan memberi petunjuk arah ke Hutan yang Terlupa untuk mendapatkan Itto. Impian semua pemburu harta!”

Minggu, 03 Agustus 2008

halaman 2

“Tuan Lance, dengan segala rasa hormat, apakah anda yakin anda tidak ingin beristirahat?”

“Jika setiap kita bertemu Fenrir kita beristirahat, kapan kita akan keluar dari hutan ini, Mag?” Jawab Lance sambil berusaha sekuat tenaga berjalan tegak dan tidak terlihat sedang bertumpu pada Obelisk, nama tombak yang baru saja digunakannya untuk membuat lubang di antara kedua mata Fenrir.

“Tapi tuan, sudah selayaknya seseorang beristirahat setelah mengalahkan dua Fenrir, itu bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah oleh kebanyakan orang.” kata Magu sambil mengikat rambut panjangnya.

“Kita akan beristirahat setelah matahari terbit. Jangan sekalipun beristirahat pada saat bintang masih bersinar.”, tegas Lance, yang masih berusaha untuk tidak bertumpu pada gagang tombaknya yang dibuat dari granit, yang sekarang warnanya sudah bercampur dengan cairan keperakan, darah Fenrir.

“Merepotkan, tapi itu memang benar.” Seseorang yang berjalan di belakang Magu mulai ikut bersuara. “Dengan kondisi kita tidak berhenti saja kita sudah diserang oleh dua ekor Favnir, walaupun kalau kau benar-benar menghitung ekornya, berarti kita diserang oleh enam ekor Fenrir.” Ujar orang itu sambil masih memegang Avalest, busur besar yang sama sekali tidak terlihat istimewa.

“Tidak lucu, dan kenapa kau tidak membawa lebih banyak anak panah heh? Hunter?” kata Magu yang sekarang sedang berusaha membuat percikan air dari tangannya.

“Pemanah yang hebat tidak perlu membawa anak panah yang tidak berguna.” Jawab Hunter singkat. “Lagipula dengan kemampuanmu mengendalikan elemen kenapa kau tidak membuat tanah terbelah dan menenggelamkan Fenrir itu? Tentu itu akan memudahkan pekerjaan kami berdua.”

“Pengendalian elemen tidak semudah yang kau kira, karena itu tidak semua orang bisa menjadi elementalist. Berbeda dengan menjadi pemanah, untuk menjadi sepertiku orang perlu bakat khusus.” Jawab Magu yang sedang mencuci lukanya dengan air yang keluar dari sela-sela Ibu jari dan telunjuknya. “Tuan Lance, setidaknya berhentilah sebentar untuk mencuci luka tuan dan mencuci Obelisk. Darah Fenrir dapat merusak ketajaman tombak tuan.”

“Setelah keluar dari hutan ini kau bisa mendapatkan tombak baru, percaya padaku Lance” sela Hunter.

Lance pun mulai melihat ujung tombaknya yang dibuat dari adamantine. “Memang darah Fenrir bisa merusak logam, dan adamantine itu logam istimewa.” pikir Lance. “Sulit mendapatkan adamantine, lebih lagi orang yang mampu mengolahnya. Tetapi, keluar dari hutan ini memang prioritas utama.”

“Lance, sebaiknya kau minta Mag membersihkan tombak itu.” Ujar Hunter.

“Kenapa?” tanya Lance. Tapi bahkan sebelum dijawab pun dia sudah merasakan jawabannya.

Fenrir. Lagi. Dan kali ini mereka berkelompok, dari hawa dingin yang dirasakannya dia bisa tahu kalau yang akan dihadapinya ini bukan jenis yang suka berburu sendiri.

“Mag, bersihkan tombakku, Hunter, cari apapun yang bisa kau jadikan anak panah. Cepat!” perintah Lance yang merasakan sensasi dingin itu mendekat.

“Aku punya ide yang lebih baik, mari kita lari saja.” Usul Magu. “Toh melawan empat Fenrir dewasa dalam kondisi seperti ini bukan ide yang lebih baik. Aku akan membuat pengalih perhatian, Hunter, kau bantu Tuan Lance keluar dari Hutan.”

“Oke, ayo Lance, saatnya sang elementalist memperlihatkan kejantanannya.” Ujar Hunter sambil menarik lengan Lance.

“Pertama, aku wanita, jadi tidak mungkin aku bisa menunjukkan kejantananku. Kedua, aku bisa mengendalikan elemen, tapi aku buta arah, jadi tolong kalungkan ini agar aku bisa mengikuti oke?” Magu berkata sambil menyerahkan sebuah kalung yang terbuat dari jalinan tiga sulur berbeda warna yang diikat oleh sebuah bunga yang memiliki warna yang berbeda pada tiap kelopaknya.

“Baik, akan kupakai. Pastikan kau menyusul kami, wahai Magu sang elementalist.” Dan setelah Lance mengatakan itu, ia pun pergi bersama Hunter.

“’Magu sang elementalist’, yah, aku belum boleh kalah di sini. Ada hal yang harus kulakukan bersama Tuan Lance. Aku harus menghancurkan Eed gumam Magu yang sekarang sedang melihat enam serigala berbulu biru tua yang masing-masing berukuran dua kali dirinya dan memiliki tiga buah ekor.

"Ups, sepertinya salah hitung."