“Tuan Lance, dengan segala rasa hormat, apakah anda yakin anda tidak ingin beristirahat?”
“Jika setiap kita bertemu Fenrir kita beristirahat, kapan kita akan keluar dari hutan ini, Mag?” Jawab Lance sambil berusaha sekuat tenaga berjalan tegak dan tidak terlihat sedang bertumpu pada Obelisk, nama tombak yang baru saja digunakannya untuk membuat lubang di antara kedua mata Fenrir.
“Tapi tuan, sudah selayaknya seseorang beristirahat setelah mengalahkan dua Fenrir, itu bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah oleh kebanyakan orang.” kata Magu sambil mengikat rambut panjangnya.
“Kita akan beristirahat setelah matahari terbit. Jangan sekalipun beristirahat pada saat bintang masih bersinar.”, tegas Lance, yang masih berusaha untuk tidak bertumpu pada gagang tombaknya yang dibuat dari granit, yang sekarang warnanya sudah bercampur dengan cairan keperakan, darah Fenrir.
“Merepotkan, tapi itu memang benar.” Seseorang yang berjalan di belakang Magu mulai ikut bersuara. “Dengan kondisi kita tidak berhenti saja kita sudah diserang oleh dua ekor Favnir, walaupun kalau kau benar-benar menghitung ekornya, berarti kita diserang oleh enam ekor Fenrir.” Ujar orang itu sambil masih memegang Avalest, busur besar yang sama sekali tidak terlihat istimewa.
“Tidak lucu, dan kenapa kau tidak membawa lebih banyak anak panah heh? Hunter?” kata Magu yang sekarang sedang berusaha membuat percikan air dari tangannya.
“Pemanah yang hebat tidak perlu membawa anak panah yang tidak berguna.” Jawab Hunter singkat. “Lagipula dengan kemampuanmu mengendalikan elemen kenapa kau tidak membuat tanah terbelah dan menenggelamkan Fenrir itu? Tentu itu akan memudahkan pekerjaan kami berdua.”
“Pengendalian elemen tidak semudah yang kau kira, karena itu tidak semua orang bisa menjadi elementalist. Berbeda dengan menjadi pemanah, untuk menjadi sepertiku orang perlu bakat khusus.” Jawab Magu yang sedang mencuci lukanya dengan air yang keluar dari sela-sela Ibu jari dan telunjuknya. “Tuan Lance, setidaknya berhentilah sebentar untuk mencuci luka tuan dan mencuci Obelisk. Darah Fenrir dapat merusak ketajaman tombak tuan.”
“Setelah keluar dari hutan ini kau bisa mendapatkan tombak baru, percaya padaku Lance” sela Hunter.
Lance pun mulai melihat ujung tombaknya yang dibuat dari adamantine. “Memang darah Fenrir bisa merusak logam, dan adamantine itu logam istimewa.” pikir Lance. “Sulit mendapatkan adamantine, lebih lagi orang yang mampu mengolahnya. Tetapi, keluar dari hutan ini memang prioritas utama.”
“Lance, sebaiknya kau minta Mag membersihkan tombak itu.” Ujar Hunter.
“Kenapa?” tanya Lance. Tapi bahkan sebelum dijawab pun dia sudah merasakan jawabannya.
Fenrir. Lagi. Dan kali ini mereka berkelompok, dari hawa dingin yang dirasakannya dia bisa tahu kalau yang akan dihadapinya ini bukan jenis yang suka berburu sendiri.
“Mag, bersihkan tombakku, Hunter, cari apapun yang bisa kau jadikan anak panah. Cepat!” perintah Lance yang merasakan sensasi dingin itu mendekat.
“Aku punya ide yang lebih baik, mari kita lari saja.” Usul Magu. “Toh melawan empat Fenrir dewasa dalam kondisi seperti ini bukan ide yang lebih baik. Aku akan membuat pengalih perhatian, Hunter, kau bantu Tuan Lance keluar dari Hutan.”
“Oke, ayo Lance, saatnya sang elementalist memperlihatkan kejantanannya.” Ujar Hunter sambil menarik lengan Lance.
“Pertama, aku wanita, jadi tidak mungkin aku bisa menunjukkan kejantananku. Kedua, aku bisa mengendalikan elemen, tapi aku buta arah, jadi tolong kalungkan ini agar aku bisa mengikuti oke?” Magu berkata sambil menyerahkan sebuah kalung yang terbuat dari jalinan tiga sulur berbeda warna yang diikat oleh sebuah bunga yang memiliki warna yang berbeda pada tiap kelopaknya.
“Baik, akan kupakai. Pastikan kau menyusul kami, wahai Magu sang elementalist.” Dan setelah Lance mengatakan itu, ia pun pergi bersama Hunter.
“’Magu sang elementalist’, yah, aku belum boleh kalah di sini. Ada hal yang harus kulakukan bersama Tuan Lance. Aku harus menghancurkan Eed” gumam Magu yang sekarang sedang melihat enam serigala berbulu biru tua yang masing-masing berukuran dua kali dirinya dan memiliki tiga buah ekor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar