“Bagus sekali, enam Fenrir melawan seorang elementalist, benar-benar curang.”
Auman dan kilatan cahaya dari cakar tajam Fenrir menari bagaikan sebuah siluet terang berwarna biru muda. Tetapi Magu tidak membuang tenaga untuk bergerak, tanah yang berada di sekitarnya spontan melindunginya dari serangan para Fenrir, angin pun bergerak seakan menjadi puluhan pisau yang menyerang para Fenrir.
“Mundur kalian!” Dengan sebuah lambaian tangan, tiba-tiba terjadi ledakan tepat di antara kumpulan Fenrir itu yang menghanguskan dua dari dua puluh empat kaki yang dimiliki kumpulan Fenrir itu.“Dasar serigala keras kepala.”
Fenrir yang kakinya hangus pun mulai mengamuk, ia mulai menggunakan taringnya untuk mencabik Magu. Tetapi saat Fenrir itu hampir berhasil mencabik Magu, mulut Fenrir itu sudah robek terkena es yang muncul tiba-tiba dari sekeliling Magu.
Fenrir berikutnya yang berusaha menyerang Magu pun mengalami nasib yang serupa, sebuah pilar es besar muncul dan merobek daerah antara kedua mata Fenrir itu.
“Fuh, masih ada empat lagi, dasar serigala kurang ajar.” Magu kemudian meletakkan tangannya dengan lembut ke tanah. “Sepertinya aku harus mengikuti usul Hunter dan membelah tanah ini.” seketika tanah yang berada di sekitar Magu pun berubah menjadi lembut, dan menyerap para Fenrir ke dalamnya.
Auman dan usaha sia-sia para Fenrir untuk meloloskan diri dari tanah yang menghisapnya mulai terdengar seperti sebuah jeritan ketidakberdayaan hewan melawan kekuatan alam. Perlahan – lahan suara para Fenrir itu sudah tidak terdengar lagi setelah rahang terakhir dari mereka ditelan oleh bumi.
Magu pun terduduk lemas. “Sial, aku masih harus menyusul Tuan Lance.” Ujarnya sambil berdiri dan berusaha menahan gemetar hebat kakinya. “Bagus sekali, bahkan angin pun sudah tidak bisa kukendalikan lagi, sepertinya Eres-ku sudah habis.”
“Hebat, setelah Fenrir, kita harus berhadapan dengan kabut sial ini.” Hunter mulai mengeluh.
“Tenanglah Hunter, kabut tebal ini menandakan kita sudah berhasil keluar dari hutan ini, dan memasuki lembah Kristal.” Jawab Lance, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Hmm. Maksudmu lembah itu ya?” Ujar Hunter sambil menunjuk sebuah daerah yang lebih rendah daripada hutan tempat ia berdiri, sebuah daerah yang ditutupi oleh semacam batuan transparan berwarna yang berkilau seperti intan.
“Ya, inilah lembah Kristal. Tempat peristirahatan terakhir bagi siapapun yang ingin memasuki hutan Terlupa.” Lance menjawab. “Sebaiknya kita menunggu Magu di sini.”
“Baiklah, tapi tidakkah lebih baik kalau salah satu dari kita memulihkan diri kita sebentar kemudian kembali dan membantu Magu?” Tanya Hunter. “Sepertinya kristal yang berada di sini cukup bagus untuk kujadikan mata panah.” Hunter berkata sambil mendekati sebuah gundukan kristal yang mencuat keluar dari tanah seperti sebuah stalaktit.
“Kristal yang berada di sini memang banyak digunakan sebagai senjata, silakan saja kalau kau mau membuat mata panahmu dari kristal yang ada di sini.” Lance berkata sambil menancapkan Obelisk di gundukan kristal yang berwarna hijau muda. “Tapi kalau soal Magu, aku yakin sekali dengan kemampuannya, empat ekor Fenrir bukan masalah baginya.” Lance mulai menjauh dari Obelisk yang dia tancapkan.
“Sebenarnya aku masih penasaran bagaimana Magu mengontrol alam, bagaimanapun juga tidak sembarang orang yang bisa melakukannya kan?” Hunter bertanya sambil berkeliling mencari kristal terpadat yang bisa ia dapatkan.”
“Ia menggunakan Eres.”
“Eres? Maksudmu batu Eres?”
“Ya, walaupun itu sebenarnya lebih mirip kristal rapuh daripada batu yang padat.” Jawab Lance sambil mengamati Obelisknya yang mulai disinari oleh cahaya yang berasal dari gundukan kristal tempat Obleisknya ditancapkan.
“Ookei, kristal Eres itu kan kristalisasi energi makhluk hidup? Itu hanya dongeng kan?” Tanya Hunter. “Eh, kenapa Obelisk mu bercahaya?”
“Kristal Eres adalah kristalisasi dari unsur- unsur dasar pembangun makhluk hidup. Diperoleh dengan cara mengambil energi dari makhluk hidup pada saat ia sedang mengamuk.” Lance berjalan ke arah Obelisknya. “Kristal di sini memiliki reaksi yang beragam terhadap logam. Memperkuat adamantine, menggabungkan logam-logam terkuat menjadi Orichalcon, seperti kristal Tiandong ini.” Ujar Lance sambil menunjuk kristal berwarna merah muda.
“Dengan kata lain, kau sedang membersihkan darah Fenrir dari Obelisk?” Hunter semakin terpana. “Berarti yang dimaksud Magu ‘tidak semua orang bisa menjadi elementalist’ adalah orang itu harus memiliki kemampuan untuk menyerap energi kehidupan?”
“Benar, dan yang dimaksud dengan pengendalian elemen tidak mudah, adalah keterbatasan jumlah Eres yang dapat digunakan.” Lance mulai mencabut Obelisknya.
“Apa maksudmu? Eres bisa habis? Aneh sekali, lagipula kalau dia bisa menyerap energi makhluk hidup, kenapa dia tidak menyerapnya saja kalau Eresnya habis?” Tanya Hunter. “Dan sambil menjawab kau mungkin bisa membantuku menentukan kristal mana yang berguna kujadikan anak panah?”
“Eres bukan sesuatu yang abadi, setiap kali elementalist menggunakannya untuk mengendalikan kekuatan alam, Kristal itu akan bertambah kerapuhannya sampai Eres hancur.Magu pernah berkata kalau penyerapan energi itu tidak bisa dilakukan kapan saja, Magu hanya bisa melakukannya saat malam yang tidak berbulan.” Jawab Lance. “Kristal hitam itu kira-kira sekeras adamantine.”
“Hmm.. Lalu kalau Eresnya habis? Kenapa dia tidak membuat Eres dalam jumlah besar saja?” tanya Hunter. “Kristal ini? Wah, ada yang lebih ringan? Ini terlalu berat untuk mata panah.”
“Pembuatan Eres perlu waktu lama, sehingga tidak bisa dibuat dalam jumlah besar. Jika Eres yang dimiliki elementalist habis? Yah, boleh dibilang kekuatan elementalist itu juga habis.” Jawab Lance lagi. “Kalau begitu pakai saja yang warna kecoklatan itu.” Tunjuk Lance. “Masalahnya, jika Magu sampai kehabisan kekuatannya, maka kita berada dalam bahaya yang lebih besar.”
Suara itu berasal dari sosok berjubah coklat yang sedang memegang sebuah batu oval berwarna biru muda di tangan kanannya. Seketika, angin pun berhenti bertiup. Udara yang berada di sekitar sosok itu mulai perlahan-lahan berbentuk. Bagaikan bayangan di air yang keruh udara itu mengeluarkan gambaran makhluk bulat bersayap. Makhluk itu pun keluar menembus udara yang menahannya, sayapnya yang seperti sayap kelelawar menutupi tubuhnya yang hanya berupa sebuah bola.
Sosok berjubah itu kemudian menenkankan batu yang dipegangnya ke makhluk itu.
“Bangkitlah Balor”
Seketika makhluk itu melompat keluar dari udara dan merentangkan sayapnya, memperlihatkan tubuh bulatnya yang hanya terdiri dari sebuah mulut dan sebuah mata kuning yang sangat besar.
“Haeckel? Wah, kejutan yang tidak menyenangkan.” Makhluk itu berkata sambilmengepakkan sayapnya. “Biasanya setiap kali kau memanggilku, aku pasti harus melakukan pekerjaan yang merepotkan.”
“Aku butuh bantuanmu Balor” Haeckel memasukkan kembali batu biru itu sambil berjalan pergi.
“Bantuan seperti apa tepatnya?” Ujar Balor sambil terbang mengikuti. “Tapi sebelum itu mungkin kau ingin menjawab di mana tepatnya kita sekarang?”
“Kita berada di pantai. Apa enam bulan di dalam penjara Aeon melunakkan kecerdasanmu?”, Haeckel menjawab sambil tetap berjalan.
“Aku tahu kita di pantai Haeckel, tapi ini pertama kalinya kau memanggilku di pantai, dan kau sudah memanggilku delapan kali tahu, jadi kenapa kau memanggilku di pantai?”
“Ingat tentang tongkat Judicer?” Tanya Haeckel yang sekarang berhenti di sebuah karang dan menghadap ke arah darat.
“Ya, tentu saja aku ingat dan jangan bilang terjadi sesuatu pada tongkat itu. Aku harus berada di penjara Aeon karena tongkat itu tahu!” Balor menjawab sambil menyeringai.
“Oh, tapi kau terlihat senang, kurasa kau sudah menemukan cara untuk menggunakan Aeon kan? Bagaimanapun juga enam bulan di penjara Aeon seharusnya sudah cukup untuk membuat Evil Eye sepertimu hancur. Tapi kulihat kau baik-baik saja.” Haeckel berkata sambil mengeluarkan batu berwarna hijau tua dari jubahnya.
“Yah, kira-kira seperti itu, lagipula memang aku yang meminta untuk masuk ke penjara Aeon kan?”
“Sudah berapa Aeon yang bisa kau kendalikan, Balor?” Haeckel bertanya sambil menekan batu hijau itu ke mata Balor.
“Batu itu, sudah berapa yang kau miliki Haeckel?”
“Tujuh, dan aku memerintahkanmu untuk menjawab pertanyaanku, O Balor, pemimpin para Eyes.” Tegas Haeckel.
“Tiga puluh empat, O Haeckel, sang warlock.” Jawab Balor sambil melipat sayapnya.
“Bagus, kita akan memerlukan itu untuk mengambil batu berwarna terakhir dan membuka segelnya.” Haeckel memasukkan kembali batu hijau itu ke dalam jubahnya. “Panggil Cranial.”
“Pemanggilan Cranial akan dilakukan O Haeckel sang warlock.” Jawab Balor sambil menutup matanya yang besar.
Tanah di sekeliling Balor mulai bergetar, kemudian tulang-tulang dari berbagai jenis makhluk hidup mulai mencuat ke atas tanah. Kemudian tanah mulai retak dan membuka, memberi jalan bagi sesosok kerangka dengan kepala dari tulang banteng, tubuh manusia, sayap dari tulang burung berjalan keluar.
“Cranial sudah datang O tuanku warlock” Balor berkata sambil membuka matanya.
“Saatnya pergi, kita harus ke tempat batu terakhir disimpan.” Ujar Haeckel sambil lalu.
“Kau sepertinya sudah tidak sabar ingin membuka segel batu itu Haeckel.” Ujar Balor sambil mengepakkan sayapnya di samping Cranial yang setia mengikutinya.
“Ada sesuatu yang harusnya kuberitahu padamu Balor. Kau masih ingat alasan utama aku mencari tongkat Judicer?” Haeckel berkata sambil menyisir rambut panjangnya dengan tangan kirinya.
“Hmm, selain memenuhi keinginanku untuk memerintah Aeon? Untuk mengontrol kekuatan segel terakhir, untuk menyatukan kekuatan batu berwarna. Eh, jangan-jangan kau..” Ucap Balor dengan nada terkejut.
“Ya, aku tahu di mana lokasi dan cara menggunakan tongkat Judicer. Saatnya sudah tiba Balor, saat kita
membuka segel It.”