“Bangkitlah Balor”
Suara itu berasal dari sosok berjubah coklat yang sedang memegang sebuah batu oval berwarna biru muda di tangan kanannya. Seketika, angin pun berhenti bertiup. Udara yang berada di sekitar sosok itu mulai perlahan-lahan berbentuk. Bagaikan bayangan di air yang keruh udara itu mengeluarkan gambaran makhluk bulat bersayap. Makhluk itu pun keluar menembus udara yang menahannya, sayapnya yang seperti sayap kelelawar menutupi tubuhnya yang hanya berupa sebuah bola.
Sosok berjubah itu kemudian menenkankan batu yang dipegangnya ke makhluk itu.
“Bangkitlah Balor”
Seketika makhluk itu melompat keluar dari udara dan merentangkan sayapnya, memperlihatkan tubuh bulatnya yang hanya terdiri dari sebuah mulut dan sebuah mata kuning yang sangat besar.
“Haeckel? Wah, kejutan yang tidak menyenangkan.” Makhluk itu berkata sambil mengepakkan sayapnya. “Biasanya setiap kali kau memanggilku, aku pasti harus melakukan pekerjaan yang merepotkan.”
“Aku butuh bantuanmu Balor” Haeckel memasukkan kembali batu biru itu sambil berjalan pergi.
“Bantuan seperti apa tepatnya?” Ujar Balor sambil terbang mengikuti. “Tapi sebelum itu mungkin kau ingin menjawab di mana tepatnya kita sekarang?”
“Kita berada di pantai. Apa enam bulan di dalam penjara Aeon melunakkan kecerdasanmu?”, Haeckel menjawab sambil tetap berjalan.
“Aku tahu kita di pantai Haeckel, tapi ini pertama kalinya kau memanggilku di pantai, dan kau sudah memanggilku delapan kali tahu, jadi kenapa kau memanggilku di pantai?”
“Ingat tentang tongkat Judicer?” Tanya Haeckel yang sekarang berhenti di sebuah karang dan menghadap ke arah darat.
“Ya, tentu saja aku ingat dan jangan bilang terjadi sesuatu pada tongkat itu. Aku harus berada di penjara Aeon karena tongkat itu tahu!” Balor menjawab sambil menyeringai.
“Oh, tapi kau terlihat senang, kurasa kau sudah menemukan cara untuk menggunakan Aeon kan? Bagaimanapun juga enam bulan di penjara Aeon seharusnya sudah cukup untuk membuat Evil Eye sepertimu hancur. Tapi kulihat kau baik-baik saja.” Haeckel berkata sambil mengeluarkan batu berwarna hijau tua dari jubahnya.
“Yah, kira-kira seperti itu, lagipula memang aku yang meminta untuk masuk ke penjara Aeon kan?”
“Sudah berapa Aeon yang bisa kau kendalikan, Balor?” Haeckel bertanya sambil menekan batu hijau itu ke mata Balor.
“Batu itu, sudah berapa yang kau miliki Haeckel?”
“Tujuh, dan aku memerintahkanmu untuk menjawab pertanyaanku, O Balor, pemimpin para Eyes.” Tegas Haeckel.
“Tiga puluh empat, O Haeckel, sang warlock.” Jawab Balor sambil melipat sayapnya.
“Bagus, kita akan memerlukan itu untuk mengambil batu berwarna terakhir dan membuka segelnya.” Haeckel memasukkan kembali batu hijau itu ke dalam jubahnya. “Panggil Cranial.”
“Pemanggilan Cranial akan dilakukan O Haeckel sang warlock.” Jawab Balor sambil menutup matanya yang besar.
Tanah di sekeliling Balor mulai bergetar, kemudian tulang-tulang dari berbagai jenis makhluk hidup mulai mencuat ke atas tanah. Kemudian tanah mulai retak dan membuka, memberi jalan bagi sesosok kerangka dengan kepala dari tulang banteng, tubuh manusia, sayap dari tulang burung berjalan keluar.
“Cranial sudah datang O tuanku warlock” Balor berkata sambil membuka matanya.
“Saatnya pergi, kita harus ke tempat batu terakhir disimpan.” Ujar Haeckel sambil lalu.
“Kau sepertinya sudah tidak sabar ingin membuka segel batu itu Haeckel.” Ujar Balor sambil mengepakkan sayapnya di samping Cranial yang setia mengikutinya.
“Ada sesuatu yang harusnya kuberitahu padamu Balor. Kau masih ingat alasan utama aku mencari tongkat Judicer?” Haeckel berkata sambil menyisir rambut panjangnya dengan tangan kirinya.
“Hmm, selain memenuhi keinginanku untuk memerintah Aeon? Untuk mengontrol kekuatan segel terakhir, untuk menyatukan kekuatan batu berwarna. Eh, jangan-jangan kau..” Ucap Balor dengan nada terkejut.
“Ya, aku tahu di mana lokasi dan cara menggunakan tongkat Judicer. Saatnya sudah tiba Balor, saat kitamembuka segel It.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar