“Hebat, setelah Fenrir, kita harus berhadapan dengan kabut sial ini.” Hunter mulai mengeluh.
“Tenanglah Hunter, kabut tebal ini menandakan kita sudah berhasil keluar dari hutan ini, dan memasuki lembah Kristal.” Jawab Lance, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Hmm. Maksudmu lembah itu ya?” Ujar Hunter sambil menunjuk sebuah daerah yang lebih rendah daripada hutan tempat ia berdiri, sebuah daerah yang ditutupi oleh semacam batuan transparan berwarna yang berkilau seperti intan.
“Ya, inilah lembah Kristal. Tempat peristirahatan terakhir bagi siapapun yang ingin memasuki hutan Terlupa.” Lance menjawab. “Sebaiknya kita menunggu Magu di sini.”
“Baiklah, tapi tidakkah lebih baik kalau salah satu dari kita memulihkan diri kita sebentar kemudian kembali dan membantu Magu?” Tanya Hunter. “Sepertinya kristal yang berada di sini cukup bagus untuk kujadikan mata panah.” Hunter berkata sambil mendekati sebuah gundukan kristal yang mencuat keluar dari tanah seperti sebuah stalaktit.
“Kristal yang berada di sini memang banyak digunakan sebagai senjata, silakan saja kalau kau mau membuat mata panahmu dari kristal yang ada di sini.” Lance berkata sambil menancapkan Obelisk di gundukan kristal yang berwarna hijau muda. “Tapi kalau soal Magu, aku yakin sekali dengan kemampuannya, empat ekor Fenrir bukan masalah baginya.” Lance mulai menjauh dari Obelisk yang dia tancapkan.
“Sebenarnya aku masih penasaran bagaimana Magu mengontrol alam, bagaimanapun juga tidak sembarang orang yang bisa melakukannya kan?” Hunter bertanya sambil berkeliling mencari kristal terpadat yang bisa ia dapatkan.”
“Ia menggunakan Eres.”
“Eres? Maksudmu batu Eres?”
“Ya, walaupun itu sebenarnya lebih mirip kristal rapuh daripada batu yang padat.” Jawab Lance sambil mengamati Obelisknya yang mulai disinari oleh cahaya yang berasal dari gundukan kristal tempat Obleisknya ditancapkan.
“Ookei, kristal Eres itu kan kristalisasi energi makhluk hidup? Itu hanya dongeng kan?” Tanya Hunter. “Eh, kenapa Obelisk mu bercahaya?”
“Kristal Eres adalah kristalisasi dari unsur- unsur dasar pembangun makhluk hidup. Diperoleh dengan cara mengambil energi dari makhluk hidup pada saat ia sedang mengamuk.” Lance berjalan ke arah Obelisknya. “Kristal di sini memiliki reaksi yang beragam terhadap logam. Memperkuat adamantine, menggabungkan logam-logam terkuat menjadi Orichalcon, seperti kristal Tiandong ini.” Ujar Lance sambil menunjuk kristal berwarna merah muda.
“Dengan kata lain, kau sedang membersihkan darah Fenrir dari Obelisk?” Hunter semakin terpana. “Berarti yang dimaksud Magu ‘tidak semua orang bisa menjadi elementalist’ adalah orang itu harus memiliki kemampuan untuk menyerap energi kehidupan?”
“Benar, dan yang dimaksud dengan pengendalian elemen tidak mudah, adalah keterbatasan jumlah Eres yang dapat digunakan.” Lance mulai mencabut Obelisknya.
“Apa maksudmu? Eres bisa habis? Aneh sekali, lagipula kalau dia bisa menyerap energi makhluk hidup, kenapa dia tidak menyerapnya saja kalau Eresnya habis?” Tanya Hunter. “Dan sambil menjawab kau mungkin bisa membantuku menentukan kristal mana yang berguna kujadikan anak panah?”
“Eres bukan sesuatu yang abadi, setiap kali elementalist menggunakannya untuk mengendalikan kekuatan alam, Kristal itu akan bertambah kerapuhannya sampai Eres hancur.Magu pernah berkata kalau penyerapan energi itu tidak bisa dilakukan kapan saja, Magu hanya bisa melakukannya saat malam yang tidak berbulan.” Jawab Lance. “Kristal hitam itu kira-kira sekeras adamantine.”
“Hmm.. Lalu kalau Eresnya habis? Kenapa dia tidak membuat Eres dalam jumlah besar saja?” tanya Hunter. “Kristal ini? Wah, ada yang lebih ringan? Ini terlalu berat untuk mata panah.”
“Pembuatan Eres perlu waktu lama, sehingga tidak bisa dibuat dalam jumlah besar. Jika Eres yang dimiliki elementalist habis? Yah, boleh dibilang kekuatan elementalist itu juga habis.” Jawab Lance lagi. “Kalau begitu pakai saja yang warna kecoklatan itu.” Tunjuk Lance. “Masalahnya, jika Magu sampai kehabisan kekuatannya, maka kita berada dalam bahaya yang lebih besar.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar